CiremaiNews.com, Kuningan – Sikap Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kuningan yang dianggap tidak memprioritaskan cabor wushu dalam alokasi dana pembinaan telah memicu kemarahan Pengurus Cabang (Pengcab) Wushu Kabupaten Kuningan. Pengcab merasa bahwa KONI Kuningan tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap potensi wushu di Kabupaten Kuningan.
“Kami jelas merasa kecewa dengan ucapan dari Bendahara KONI yang mengungkapkan bahwa dana sebesar Rp. 500 juta hanya untuk yang berprestasi. Dengan alasan Pemda belum mencairkan dana hibah ke KONI. Perkataan itu menyakitkan pengurus Pengcab Wushu dan para atlet yang tengah digembleng untuk persiapan Babak Kualifikasi,” ungkap Solehudin, Ketua Bidang Organisasi Pengcab Wushu Kuningan.
Babak kualifikasi (BK) akan dilaksanakan pada Oktober mendatang, dan Pengcab Wushu Kuningan membutuhkan dana untuk pembinaan supaya atlet termotivasi dan memberikan kemampuan terbaiknya. Apalagi, pihak KONI Kabupaten Kuningan menargetkan raihan medali minimal satu emas pada Porprov tahun 2025.
“Kami merasa bahwa kebijakan ini kontraproduktif dengan hasil rapat Oktober 2024, tim Binpres KONI menargetkan minimal satu emas. Apakah mereka tidak memahami bahwa untuk mencapai target tersebut, kita membutuhkan dukungan dana yang memadai?” ucap Solehudin berapi-api.
Didin Syafarudin, Ketua Bidang Diklat Pengcab Wushu Kuningan, menambahkan bahwa atlet wushu Kuningan banyak yang berada di luar kota karena mereka mengikuti kuliah di perguruan tinggi negeri seperti UPI Bandung. Artinya, mereka harus diperhatikan serius masalah sandang, pangan, serta tempat latihannya harus dibayar.
“Tanpa dukungan dana, tentu mereka tidak bisa berlatih. Kita berikan menu latihan fisik dan teknik setiap bulan dan dipantau melalui rekaman video untuk bahan evaluasi. Nah, mereka menggunakan alat orang lain, tempat latihan juga punya orang lain. Apakah gratis juga? Kan tidak, jika pengcab mengalami kekosongan keuangan, tentu mereka memakai dana pribadinya sebab Pengcab terbatas sumber kuangannya,” paparnya.
Belum lagi yang latihan di Kuningan, “tidak semua atlet memiliki kemampuan keuangan keluarga yang baik. Butuh dukungan dari semua pihak. Apakah persoalan di lapangan diperhatikan juga oleh KONI yang konon katanya akan melakukan monitoring kepada Cabor-cabor yang hanya omdo. Tak ada perhatian dari KONI Kabupaten Kuningan kepada Cabor dan atlet yang konon katanya tidak prioritas tapi dituntut meraih medali,” ucapnya.
Jika sudah demikian, sambung Didin Syafarudin, “kami menuntut KONI periode 2023-2027 harus dibubarkan dan percepat Muskablub. Sebab mereka tidak memperdulikan Cabor dan atlet yang tengah mempersiapkan diri menjalani babak kualifikasi (BK) Porprov tahun 2025,” tegasnya. Pengcab Wushu Kuningan berharap bahwa KONI dapat lebih memperhatikan kebutuhan dan potensi cabor wushu di Kabupaten Kuningan.

